Ronald Ismail: Pemilih Disabilitas Cerdas Fondasi Pemilu yang Sehat
|
Gorontaloutara.bawaslu.go.id-Di tengah upaya memperkuat kualitas demokrasi yang kian diuji, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Gorontalo Utara memilih memulai dari kelompok yang kerap terpinggirkan: penyandang disabilitas dan kelompok rentan. Melalui kegiatan fasilitasi penguatan pemahaman kepemiluan, Bawaslu berupaya memastikan bahwa demokrasi tidak hanya menjadi milik sebagian orang, tetapi benar-benar inklusif dan setara. Selasa (30/06/2026)
Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas sosialisasi. Di dalamnya, tersimpan dorongan untuk membangun kesadaran kritis sekaligus keberanian politik bagi kelompok disabilitas agar tidak lagi ditempatkan sebagai objek dalam pesta demokrasi, melainkan sebagai subjek yang aktif dan berdaya.
Ketua Bawaslu Gorontalo Utara, Ronald Ismail, yang hadir sebagai narasumber, menekankan bahwa kualitas pemilu tidak hanya ditentukan oleh penyelenggara, tetapi juga oleh kualitas pemilihnya.
“Praktik pemilu yang sehat dan berkualitas menjadi harapan bersama. Kehadiran pemilih disabilitas yang cerdas dalam berdemokrasi merupakan salah satu kunci untuk meningkatkan kualitas pemilu dan demokrasi,” ujarnya.
Ronald menjelaskan, yang dimaksud dengan pemilih disabilitas cerdas berdemokrasi bukan sekadar mereka yang datang ke tempat pemungutan suara. Lebih dari itu, mereka adalah warga negara yang memahami nilai-nilai demokrasi, mampu bersikap kritis terhadap dinamika politik, serta memiliki keterampilan untuk memperjuangkan kepentingan publik.
Di titik inilah tantangan terbesar berada. Selama ini, keterbatasan akses informasi dan minimnya ruang partisipasi membuat sebagian kelompok disabilitas belum sepenuhnya terlibat dalam proses demokrasi secara utuh. Padahal, suara mereka memiliki bobot yang sama dalam menentukan arah kebijakan publik.
Upaya ini juga menjadi pengingat bahwa demokrasi bukan hanya soal angka partisipasi, tetapi juga kualitas partisipasi itu sendiri. Ketika pemilih—termasuk dari kalangan disabilitas—memiliki pengetahuan, sikap kritis, dan keberanian untuk menyuarakan kepentingannya, maka demokrasi bergerak menuju kedewasaan.
Bawaslu Gorontalo Utara optimistis, langkah kecil yang dimulai dari penguatan pemahaman ini akan berdampak besar pada masa depan demokrasi lokal. Sebab, demokrasi yang inklusif bukan sekadar slogan, melainkan kerja panjang yang harus terus dirawat—dari pusat hingga ke pinggiran.